Minggu, 23 September 2012

Seabad Gereja Katolik Raha



Pada tanggal 12 September 2012 lalu gereja Katolik di Raha genap 100 tahun, seabad sudah usianya. Bukan hanya merupakan satu-satunya gereja Katolik di kota Raha, tapi juga menjadi gereja tertua di Sulawesi Tenggara. Peringatan seabad gereja Katolik yang dirayakan dengan berbagai kegiatan dan diikuti oleh kontingen-kontingen dari kabupaten-kabupaten se-Sulawesi Tenggara ini antara lain lomba paduan suara, gotong royong dan jalan santai. Jalan santai yang diikuti juga oleh warga non katolik dimeriahkan iringan drumband para murid Sekolah Menengah Pertama Katolik Raha. Puncak acara adalah malam ramah tamah yang dilaksanakan di gedung Sarana Olah Raga (SOR) Raha pada tanggal 12 September 2012.

Hadirnya gereja Katolik di pulau Muna ini berawal ketika pada tahun 1909 orang-orang Katolik datang ke Muna. Mereka berasal dari Flores, Timor, Banda (Maluku) dan Filipina. Mereka bekerja sebagai karyawan di perusahaan mutiara milik Tuan Badila di pulau Tobea, sebelah utara pulau Muna. Karena sebagian dari para pekerja ini datang bersama keluarga maka mereka kemudian mempunyai keturunan yang harus dididik dan dibaptis Katolik. Karena itulah pada tahun 1910 mereka mendapat kunjungan pertama dari seorang Pastor.

Salah satu kepala keluarga itu adalah David Salomon Pella yang berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Barat dekat pulau Flores. Ia memegang peranan penting dalam pembinaan umat Katolik di Raha. Setiap hari minggu umat Katolik berkumpul di rumahnya untuk melaksanakan ibadat bersama dan pada hari lain beliau memberikan pelajaran Agama Katolik. David Salomon Pella memiliki anak yang diberi nama Salomon Pella yang pada tanggal 12 September 1912 dibaptis oleh Pastor Onel, SJ. Baptisan itu dicatat dengan nomor urut 1 dalam buku baptis di Gereja Katolik Raha. Tanggal tersebut dipandang sebagai permulaan hadirnya Gereja Katolik di Muna. Setelah itu berturut-turut Raha dikunjungi oleh Pastor Wintjes, SJ dan P. Kremers, SJ.

Pada tahun 1914 umat Katolik tercatat berjumlah 27 orang. Selain bekerja sebagai penyelam mutiara, ada juga yang bekerja di perusahaan kayu Vejahoma. Saat itu industri penggergajian kayu di Raha adalah salah satu dari dua industri penggergajian kayu di kawasan timur Indonesia; yang satu berada di Ternate. Dan di perusahaan kayu inilah David Salomon Pella menjadi seorang pejabat penting.

Pada tahun 1927 P.J. Zpels, MSC diijinkan secara khusus untuk menetap di daerah Buton, Muna dan Laiwoi (Tenggara Sulawesi), lalu pada tanggal 15 September 1927 beliau diijinkan untuk bertempat tinggal di Raha. Sejak itu ia berkeliling di pulau Muna untuk mengetahui kondisi wilayah dan masyarakatnya dalam rangka memfokuskan karya perutusan Gereja Katolik ke tengah masyarakat.

Sejak berdirinya Gereja Katolik Raha sudah berkarya dalam berbagai bidang dalam memajukan masyarakat di pulau Muna, yang menurut catatan sejarah terbagi dalam tiga bidang yaitu pendidikan, kesehatan dan pengembangan sosial ekonomi.

Dalam bidang pendidikan, diawali dengan dibukanya Sekolah Rakyat Katolik pertama di Raha pada tanggal 1 Agustus 1931. Pada tahun 1932 dibuka lagi 2 (dua) Sekolah Rakyat (SR) Katolik di Lasehao dan Wale-ale. Lalu bulan September 1932 dibuka lagi Sekolah Rakyat Katolik di Bone Kantjitala, sehingga ada 4 Sekolah Rakyat Katolik di Muna pada tahun 1931 hingga 1932. Sekolah Rakyat Katolik ini merupakan karya awal upaya pengentasan buta huruf menuju pencerdasan masyarakat. Murid pertama dari keempat sekolah itu berjumlah 150 orang, 90% diantaranya beragama Islam atau agama lokal. Guru-guru yang mengajar didatangkan dari Flores dan Manado. Setelah tamat SR ada yang melanjutkan ke Manado untuk masuk sekolah guru; mereka adalah Agustinus La Rangka dari Tongkuno, Rufinus La Ode Anasara dari Tewehu (sekarang desa Bungi), Walter La Tokulo dari Mabodo, Pius La Kompa dari Watoputih dan Mikail Lakaden dari Raha. Setelah selesai pendidikan mereka pulang dan mengajar di empat sekolah tersebut. Sayangnya langkah awal pendidikan tersebut kemudian terhenti sementara karena semua Pastor atau fungsionaris gereja ditawan oleh penjajah Jepang. Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, tahun 1946 Sekolah Rakyat Katolik dibuka kembali namun hanya Sekolah Rakyat di Raha dan Wale-ale.

Pada tahun 1955 didirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik di Raha oleh P. Heurkans, CICM yang bertindak atas nama Yayasan Paulus, selain itu juga para pastor mendirikan asrama baik untuk putra maupun putri yang sangat berguna bagi Pembentukan karakter dan sikap disiplin dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di kemudian hari. Banyak dari mereka yang tamat dari SMP Katolik melanjutkan pendidikan di Makassar yang kemudian menjadi pejabat penting dan menjadi pilar-pilar pertumbuhan dan pengembangan daerah selanjutnya.
 
Dalam bidang kesehatan, empat suster JMJ: Mere Xaveriana, JMJ, Engelbertha Arst, JMJ, Margharetha Yahonna Groot, JMJ, dan Elisabeth Thy Erneste, JMJ tiba di Raha pada tanggal 1 Nopember 1931. Mereka diberi tugas dan tangungjawab untuk berkarya pada Het Landschapszinkenhuis (Rumah Sakit Umum Daerah) di Raha. Selain berkarya di rumah sakit, mereka juga membuka asrama dan kursus menjahit bagi putri-putri asli Muna (Raha).

Adalah P. Melchior Aarts, CICM yang pada tanggal 1 Desember 1951 datang ke Muna sebagai “perawat.” Beliau tinggal di pastoran Lasehao dan dari sana ia berkeliling di Muna Selatan untuk merawat orang-orang sakit. Selain karya pastoral ia aktif pada 3 bidang: pengobatan, pembangunan dan teknik mesin. Beliau menjelajahi wilayah Muna Selatan dengan jeepnya sambil membawa obat-obatan dan suntikan sehingga beliau dikenal sebagai dokter Suntikan. Berkat pelayanannya beliau semakin dikenal di wilayah Muna Selatan dan dengan bantuan bapak Gerardus Lamboki (salah satu guru agama dan penerjemah khotbah-khotbah pastor kedalam bahasa daerah Muna kala itu) beliau bisa mengunjungi Lolibu (kabupaten Buton) dan memberi pelayanan disana.

Selain pastor M. Aarts yang bisa mengobati, pada tanggal 7 Juni 1958 datang P. dr. Clemens, Lemmens, CICM. Awalnya beliau disiapkan untuk bertugas sebagai pastor di Tiongkok. Namun saat itu Tiongkok sedang didominasi oleh komunis, maka beliau tidak diterima disana. Kemudian diusahakan masuk ke Indonesia dimana kongregasi CICM sudah mulai berkarya di Keuskupan Agung Makassar (KAMS), namun sekali lagi beliau tidak diterima karena Indonesia saat itu sangat dipengaruhi oleh komunis (poros Jakarta Peking) dan tenaga asing yang diterima hanyalah tenaga ahli untuk bidang tertentu yang masih kurang. Maka beliau lalu disekolahkan untuk menjadi dokter karena saat itu Indonesia masih sangat kekurangan tenaga dokter. Setelah kuliah dua tahun dan diwisuda sebagai dokter spesialis penyakit tropis, beliau bisa masuk ke Indonesia dan dikontrak menjadi dokter pemerintah dengan jabatan Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Muna dari tahun 1958-1965.

Menurut catatan yang ditulisnya pada tahun 1965, kesehatan di Pulau Muna kala beliau mulai bertugas sangat rendah. Fakta mencatat jumlah anak yang meninggal dunia sebelum berumur setahun rata-rata 65-70%. Kondisi ini menjadikan usia hidup rata-rata hanya 22-23 tahun. Buruknya kesehatan itu disebabkan tiga hal: pertama, ketiadaan lingkungan yang sehat; kedua, kekurangan makanan sekaligus makanan yang dimakan kurang bervariasi; dan ketiga, pengaruh adat istiadat dan tahayul. Penyakit yang sering muncul pada tahun 1960-an itu adalah malaria, cacing-cacing, disentri, frambusia tropica, kaki gajah, kusta, cacar, anjing gila (rabies), dan tubercolosis. Melalui pengobatan kedua pastor banyak penderita penyakit tersebut dapat disembuhkan.

Penyakit yang sangat ditakuti adalah malaria. Sampai-sampai ada rumor “belum ke Muna kalau belum kena Malaria” sehingga Raha sempat dijuluki kota malaria. P. dr Clemens memberi perhatian besar pada penyakit ini dengan mendatangkan pil kinine dalam jumlah besar dan disebar hingga ke kampung-kampung dengan mobilnya bertuliskan “PEMBERANTASAN MALARIA.”       

Dokter yang terkenal dengan ungkapan “siapa tidak rela bekerja bagi sesama manusia sampai mati, ia kehilangan kehidupannya” ini juga berkarya dan terkenal di Kendari setelah Gubernur Edi Sabara menjadikannya Kepala RSUD di Kendari. Setelah menyelesaikan tugasnya di RSUD Kendari beliau mendirikan dan memimpin RS Snta Anna, rumah sakit swasta pertama di Kendari hingga saat meninggalnya pada tahun 1981 akibat penyakit jantung.

Disamping P.M. Aarts dan P.dr Clemens ada juga P. Michael Migneau, yang setelah beberapa lama bertugas di Raha beliau bertugas di Lolibu dan Lawama. Beliau juga memberi perhatian besar pada karya kesehatan dengan mendirikan Balai Pengobatan di Lawama yang dikenal dengan nama Kalawesi dan di Lolibu. Selain itu beliau mengutus sejumlah anak untuk bersekolah di bidang keperawatan di Makassar. Namun karya terbesarnya adalah penataan pemukiman dan pertanian serta membuka akses pasar yang lebih luas pada hasil pertanian khususnya jambu mete.

Bicara tentang peran Gereja Katolik dalam pengembangan sosial ekonomi di Muna tidak bisa dilepaskan dari peran besar Pastor Michael Migneau. Pada tahun 1960 ketika pemerintah pusat menggalakkan program redistribusi tanah dan transmigrasi, pastor M. Migneau yang berlatar belakang keluarga petani dan saat itu bertugas di Lolibu sangat tertarik untuk ikut dalam program tersebut. Dalam program itu setiap petani dan atau orang dewasa berhak memiliki tanah minimal 2 hektar. Suatu saat dalam perjalanan pelayanannya antara Lolibu dan Wale-ale, beliau melewati hamparan alang-alang yang datar tanpa penghuni. Pastor memikirkan dan merencanakan program transmigrasi masyarakat Lolibu yang saat itu hidup diatas tanah berbatu dan tandus. Kemudian pastor bertemu dengan pemerintah kabupaten Buton untuk membicarakan rencananya itu. Pemerintah menyambut baik rencana itu, maka segera dimulai pelaksanaan transmigrasi lokal ke Lakapera. Mereka yang ikut bertransmigrasi bukan saja umat Katolik tapi juga umat Islam. Dalam mengatur pembagian lahan dan perencanaan pertanian, pastor dibantu oleh Thomas Bolosi seorang putra Lolibu yang lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan tentu saja katekis Gerardus Lamboki. Lalu ada Simon Mbolosi, mantri kesehatan yang kemudian menjadi kepala desa, yang membantu dalam penataan pemukiman dan area perkebunan.

Pastor Migneau mengenal dengan baik mantan Raja Muna, La Ode Dika (bergelar Omputo Komasigino) dan Bupati Muna saat itu, La Ode Ndoasa (La Ode Rasyid) yang adalah putra mantan Raja Muna tersebut. Karena tertarik pada program Lakapera, Omputo Komasigino meminta pastor mencari orang untuk mengolah lahan kosong di sebelah selatan dan timur kampung Labasa (wilayah kabupaten Muna). Setelah beberapa kali pertemuan pastor menyanggupi permintaan tersebut dan mencari orang-orang dari Lolibu dan Wale-ale untuk mengolah lahan tersebut termasuk area Mento-Wale-ale. Untuk menghubungkan area/pemukiman sebelah timur kampung Labasa yang diberi  nama Ampera, dibuka jalan sampai ke jalan propinsi dimana sekarang ada pos penjagaan untuk pungutan retribusi.

Pada bulan Agustus 1961 Pastor Migneau sempat cuti ke Belgia karena ayahnya sakit. Saat itulah pastor membaca artikel di majalah Eropa tentang India sebagai Negara penghasil jambu mete terbesar di dunia dan hasilnya diekspor ke Amerika. Beliau senang sekali membaca artikel ini dan sekembalinya dari cuti menyarankan penanaman jambu mete. Beliau sendiri memberi contoh dengan menaman di lahan di belakang Gereja Katolik Lawana selarang ini.

Setelah terbukti bahwa jambu mete merupakan komoditi bernilai tinggi, tahun 1972 pastor mengirim beberapa orang ke Surabaya untuk belajar memisahkan biji dari kulitnya dengan menggunakan kacip. Sekembalinya dari Surabaya, mereka memulai usaha mengacip jambu. Sejumlah alat kacip yang dibawa disebar ke masyarakat sehingga makin banyak orang yang trampil mengacip, karena hasil jambu olahan memiliki nilai tambah yang sangat berarti. Pada saat itu pastor juga sudah berkenalan dengan seorang guru dari Wakuru, La Ode Bolombo, yang berminat bertani. Pastor lalu menganjurkan menanam jambu mete dan member sekarung jambu. La Ode Bolombo menanam jambu tersebut di kebunnya dan sisanya diberikan kepada masyarakat yang ingin menanam jambu mete. Dengan cara itu jambu mete mulai tersebut di Wakuru. Lalu atas peran yang luar biasa dari Bupati Muna Drs La Ode Kaemuddin, penanaman jambu mete digalakkan di seluruh kabupaten Muna  melalui program penghijauan. Penanaman jambu mete ini mewujudkan impian pastor Migneau: meningkatkan kesejahteraan para petani sehingga mereka mulai bisa menabung dan dapat membiayai pendidikan anak-anak mereka.   



Sumber:
Buku 100 Tahun Karya Gereja Katolik di Sulawesi Tenggara
Ketua Tim Penyusun: Frans Delu
Yang diterbitkan dan dibagikan pada hari jadi ke-100 Ge

1 komentar:

Herlina Halim mengatakan...

Rest in peace Pastor Michel Migneau CICM. 19 Okt 2015. Kasih mu pada kami takkan terlupakan. Sing with the angels in heaven as you taught us in the moment you stay with us.