Pada tanggal
12 September 2012 lalu gereja Katolik di Raha genap 100 tahun, seabad sudah
usianya. Bukan hanya merupakan satu-satunya gereja Katolik di kota Raha, tapi
juga menjadi gereja tertua di Sulawesi Tenggara. Peringatan seabad gereja
Katolik yang dirayakan dengan berbagai kegiatan dan diikuti oleh
kontingen-kontingen dari kabupaten-kabupaten se-Sulawesi Tenggara ini antara lain
lomba paduan suara, gotong royong dan jalan santai. Jalan santai yang diikuti
juga oleh warga non katolik dimeriahkan iringan
drumband para murid Sekolah Menengah Pertama Katolik Raha. Puncak acara adalah malam
ramah tamah yang dilaksanakan di gedung Sarana Olah Raga (SOR) Raha pada
tanggal 12 September 2012.
Hadirnya
gereja Katolik di pulau Muna ini berawal ketika pada tahun 1909 orang-orang
Katolik datang ke Muna. Mereka berasal dari Flores, Timor, Banda (Maluku) dan
Filipina. Mereka bekerja sebagai karyawan di perusahaan mutiara milik Tuan
Badila di pulau Tobea, sebelah utara pulau Muna. Karena sebagian dari para
pekerja ini datang bersama keluarga maka mereka kemudian mempunyai keturunan
yang harus dididik dan dibaptis Katolik. Karena itulah pada tahun 1910 mereka
mendapat kunjungan pertama dari seorang Pastor.
Salah satu kepala
keluarga itu adalah David Salomon Pella yang berasal dari pulau Rote, Nusa
Tenggara Barat dekat pulau Flores. Ia memegang peranan penting dalam pembinaan
umat Katolik di Raha. Setiap hari minggu umat Katolik berkumpul di rumahnya
untuk melaksanakan ibadat bersama dan pada hari lain beliau memberikan
pelajaran Agama Katolik. David Salomon Pella memiliki anak yang diberi nama
Salomon Pella yang pada tanggal 12 September 1912 dibaptis oleh Pastor Onel,
SJ. Baptisan itu dicatat dengan nomor urut 1 dalam buku baptis di Gereja
Katolik Raha. Tanggal tersebut dipandang sebagai permulaan hadirnya Gereja
Katolik di Muna. Setelah itu berturut-turut Raha dikunjungi oleh Pastor
Wintjes, SJ dan P. Kremers, SJ.
Pada tahun
1914 umat Katolik tercatat berjumlah 27 orang. Selain bekerja sebagai penyelam
mutiara, ada juga yang bekerja di perusahaan kayu Vejahoma. Saat itu industri
penggergajian kayu di Raha adalah salah satu dari dua industri penggergajian
kayu di kawasan timur Indonesia; yang satu berada di Ternate. Dan di perusahaan
kayu inilah David Salomon Pella menjadi seorang pejabat penting.
Pada tahun
1927 P.J. Zpels, MSC diijinkan secara khusus untuk menetap di daerah Buton,
Muna dan Laiwoi (Tenggara Sulawesi), lalu pada tanggal 15 September 1927 beliau
diijinkan untuk bertempat tinggal di Raha. Sejak itu ia berkeliling di pulau
Muna untuk mengetahui kondisi wilayah dan masyarakatnya dalam rangka memfokuskan
karya perutusan Gereja Katolik ke tengah masyarakat.
Sejak
berdirinya Gereja Katolik Raha sudah berkarya dalam berbagai bidang dalam
memajukan masyarakat di pulau Muna, yang menurut catatan sejarah terbagi dalam
tiga bidang yaitu pendidikan, kesehatan dan pengembangan sosial ekonomi.
Dalam bidang
pendidikan, diawali dengan dibukanya Sekolah Rakyat Katolik pertama di Raha
pada tanggal 1 Agustus 1931. Pada tahun 1932 dibuka lagi 2 (dua) Sekolah Rakyat
(SR) Katolik di Lasehao dan Wale-ale. Lalu bulan September 1932 dibuka lagi
Sekolah Rakyat Katolik di Bone Kantjitala, sehingga ada 4 Sekolah Rakyat
Katolik di Muna pada tahun 1931 hingga 1932. Sekolah Rakyat Katolik ini
merupakan karya awal upaya pengentasan buta huruf menuju pencerdasan
masyarakat. Murid pertama dari keempat sekolah itu berjumlah 150 orang, 90% diantaranya
beragama Islam atau agama lokal. Guru-guru yang mengajar didatangkan dari
Flores dan Manado. Setelah tamat SR ada yang melanjutkan ke Manado untuk masuk
sekolah guru; mereka adalah Agustinus La Rangka dari Tongkuno, Rufinus La Ode
Anasara dari Tewehu (sekarang desa Bungi), Walter La Tokulo dari Mabodo, Pius
La Kompa dari Watoputih dan Mikail Lakaden dari Raha. Setelah selesai
pendidikan mereka pulang dan mengajar di empat sekolah tersebut. Sayangnya
langkah awal pendidikan tersebut kemudian terhenti sementara karena semua Pastor
atau fungsionaris gereja ditawan oleh penjajah Jepang. Sesudah kemerdekaan
Republik Indonesia, tahun 1946 Sekolah Rakyat Katolik dibuka kembali namun
hanya Sekolah Rakyat di Raha dan Wale-ale.
Pada tahun
1955 didirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik di Raha oleh P. Heurkans,
CICM yang bertindak atas nama Yayasan Paulus, selain itu juga para pastor
mendirikan asrama baik untuk putra maupun putri yang sangat berguna bagi
Pembentukan karakter dan sikap disiplin dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya di kemudian hari. Banyak dari mereka yang tamat dari SMP Katolik
melanjutkan pendidikan di Makassar yang kemudian menjadi pejabat penting dan
menjadi pilar-pilar pertumbuhan dan pengembangan daerah selanjutnya.
Dalam bidang kesehatan, empat suster JMJ: Mere
Xaveriana, JMJ, Engelbertha Arst, JMJ, Margharetha Yahonna Groot, JMJ, dan
Elisabeth Thy Erneste, JMJ tiba di Raha pada tanggal 1 Nopember 1931. Mereka
diberi tugas dan tangungjawab untuk berkarya pada Het Landschapszinkenhuis (Rumah Sakit Umum Daerah) di Raha. Selain
berkarya di rumah sakit, mereka juga membuka asrama dan kursus menjahit bagi
putri-putri asli Muna (Raha).
Adalah P. Melchior Aarts, CICM yang pada tanggal 1
Desember 1951 datang ke Muna sebagai “perawat.” Beliau tinggal di pastoran
Lasehao dan dari sana ia berkeliling di Muna Selatan untuk merawat orang-orang
sakit. Selain karya pastoral ia aktif pada 3 bidang: pengobatan, pembangunan
dan teknik mesin. Beliau menjelajahi wilayah Muna Selatan dengan jeepnya sambil
membawa obat-obatan dan suntikan sehingga beliau dikenal sebagai dokter
Suntikan. Berkat pelayanannya beliau semakin dikenal di wilayah Muna Selatan
dan dengan bantuan bapak Gerardus Lamboki (salah satu guru agama dan penerjemah
khotbah-khotbah pastor kedalam bahasa daerah Muna kala itu) beliau bisa
mengunjungi Lolibu (kabupaten Buton) dan memberi pelayanan disana.
Selain pastor M. Aarts yang bisa mengobati, pada
tanggal 7 Juni 1958 datang P. dr. Clemens, Lemmens, CICM. Awalnya beliau
disiapkan untuk bertugas sebagai pastor di Tiongkok. Namun saat itu Tiongkok
sedang didominasi oleh komunis, maka beliau tidak diterima disana. Kemudian
diusahakan masuk ke Indonesia dimana kongregasi CICM sudah mulai berkarya di
Keuskupan Agung Makassar (KAMS), namun sekali lagi beliau tidak diterima karena
Indonesia saat itu sangat dipengaruhi oleh komunis (poros Jakarta Peking) dan
tenaga asing yang diterima hanyalah tenaga ahli untuk bidang tertentu yang
masih kurang. Maka beliau lalu disekolahkan untuk menjadi dokter karena saat
itu Indonesia masih sangat kekurangan tenaga dokter. Setelah kuliah dua tahun
dan diwisuda sebagai dokter spesialis penyakit tropis, beliau bisa masuk ke
Indonesia dan dikontrak menjadi dokter pemerintah dengan jabatan Kepala Rumah
Sakit Umum Daerah Muna dari tahun 1958-1965.
Menurut catatan yang ditulisnya pada tahun 1965,
kesehatan di Pulau Muna kala beliau mulai bertugas sangat rendah. Fakta
mencatat jumlah anak yang meninggal dunia sebelum berumur setahun rata-rata
65-70%. Kondisi ini menjadikan usia hidup rata-rata hanya 22-23 tahun. Buruknya
kesehatan itu disebabkan tiga hal: pertama,
ketiadaan lingkungan yang sehat; kedua,
kekurangan makanan sekaligus makanan yang dimakan kurang bervariasi; dan ketiga, pengaruh adat istiadat dan
tahayul. Penyakit yang sering muncul pada tahun 1960-an itu adalah malaria,
cacing-cacing, disentri, frambusia
tropica, kaki gajah, kusta, cacar, anjing gila (rabies), dan tubercolosis. Melalui pengobatan kedua
pastor banyak penderita penyakit tersebut dapat disembuhkan.
Penyakit yang sangat ditakuti adalah malaria. Sampai-sampai
ada rumor “belum ke Muna kalau belum kena
Malaria” sehingga Raha sempat dijuluki kota malaria. P. dr Clemens memberi
perhatian besar pada penyakit ini dengan mendatangkan pil kinine dalam jumlah
besar dan disebar hingga ke kampung-kampung dengan mobilnya bertuliskan
“PEMBERANTASAN MALARIA.”
Dokter yang terkenal dengan ungkapan “siapa tidak rela bekerja bagi sesama manusia
sampai mati, ia kehilangan kehidupannya” ini juga berkarya dan terkenal di
Kendari setelah Gubernur Edi Sabara menjadikannya Kepala RSUD di Kendari.
Setelah menyelesaikan tugasnya di RSUD Kendari beliau mendirikan dan memimpin
RS Snta Anna, rumah sakit swasta pertama di Kendari hingga saat meninggalnya
pada tahun 1981 akibat penyakit jantung.
Disamping P.M. Aarts dan P.dr Clemens ada juga P.
Michael Migneau, yang setelah beberapa lama bertugas di Raha beliau bertugas di
Lolibu dan Lawama. Beliau juga memberi perhatian besar pada karya kesehatan
dengan mendirikan Balai Pengobatan di Lawama yang dikenal dengan nama Kalawesi
dan di Lolibu. Selain itu beliau mengutus sejumlah anak untuk bersekolah di
bidang keperawatan di Makassar. Namun karya terbesarnya adalah penataan
pemukiman dan pertanian serta membuka akses pasar yang lebih luas pada hasil
pertanian khususnya jambu mete.
Bicara tentang peran Gereja Katolik dalam pengembangan
sosial ekonomi di Muna tidak bisa dilepaskan dari peran besar Pastor Michael
Migneau. Pada tahun 1960 ketika pemerintah pusat menggalakkan program
redistribusi tanah dan transmigrasi, pastor M. Migneau yang berlatar belakang
keluarga petani dan saat itu bertugas di Lolibu sangat tertarik untuk ikut
dalam program tersebut. Dalam program itu setiap petani dan atau orang dewasa
berhak memiliki tanah minimal 2 hektar. Suatu saat dalam perjalanan
pelayanannya antara Lolibu dan Wale-ale, beliau melewati hamparan alang-alang
yang datar tanpa penghuni. Pastor memikirkan dan merencanakan program
transmigrasi masyarakat Lolibu yang saat itu hidup diatas tanah berbatu dan
tandus. Kemudian pastor bertemu dengan pemerintah kabupaten Buton untuk
membicarakan rencananya itu. Pemerintah menyambut baik rencana itu, maka segera
dimulai pelaksanaan transmigrasi lokal ke Lakapera. Mereka yang ikut
bertransmigrasi bukan saja umat Katolik tapi juga umat Islam. Dalam mengatur
pembagian lahan dan perencanaan pertanian, pastor dibantu oleh Thomas Bolosi
seorang putra Lolibu yang lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan
tentu saja katekis Gerardus Lamboki. Lalu ada Simon Mbolosi, mantri kesehatan
yang kemudian menjadi kepala desa, yang membantu dalam penataan pemukiman dan
area perkebunan.
Pastor Migneau mengenal dengan baik mantan Raja Muna,
La Ode Dika (bergelar Omputo Komasigino)
dan Bupati Muna saat itu, La Ode Ndoasa (La Ode Rasyid) yang adalah putra
mantan Raja Muna tersebut. Karena tertarik pada program Lakapera, Omputo Komasigino meminta pastor mencari
orang untuk mengolah lahan kosong di sebelah selatan dan timur kampung Labasa
(wilayah kabupaten Muna). Setelah beberapa kali pertemuan pastor menyanggupi
permintaan tersebut dan mencari orang-orang dari Lolibu dan Wale-ale untuk
mengolah lahan tersebut termasuk area Mento-Wale-ale. Untuk menghubungkan
area/pemukiman sebelah timur kampung Labasa yang diberi nama Ampera, dibuka jalan sampai ke jalan
propinsi dimana sekarang ada pos penjagaan untuk pungutan retribusi.
Pada bulan Agustus 1961 Pastor Migneau sempat cuti ke
Belgia karena ayahnya sakit. Saat itulah pastor membaca artikel di majalah
Eropa tentang India sebagai Negara penghasil jambu mete terbesar di dunia dan
hasilnya diekspor ke Amerika. Beliau senang sekali membaca artikel ini dan
sekembalinya dari cuti menyarankan penanaman jambu mete. Beliau sendiri memberi
contoh dengan menaman di lahan di belakang Gereja Katolik Lawana selarang ini.
Setelah terbukti bahwa jambu mete merupakan komoditi
bernilai tinggi, tahun 1972 pastor mengirim beberapa orang ke Surabaya untuk
belajar memisahkan biji dari kulitnya dengan menggunakan kacip. Sekembalinya dari
Surabaya, mereka memulai usaha mengacip jambu. Sejumlah alat kacip yang dibawa
disebar ke masyarakat sehingga makin banyak orang yang trampil mengacip, karena
hasil jambu olahan memiliki nilai tambah yang sangat berarti. Pada saat itu
pastor juga sudah berkenalan dengan seorang guru dari Wakuru, La Ode Bolombo,
yang berminat bertani. Pastor lalu menganjurkan menanam jambu mete dan member
sekarung jambu. La Ode Bolombo menanam jambu tersebut di kebunnya dan sisanya
diberikan kepada masyarakat yang ingin menanam jambu mete. Dengan cara itu
jambu mete mulai tersebut di Wakuru. Lalu atas peran yang luar biasa dari
Bupati Muna Drs La Ode Kaemuddin, penanaman jambu mete digalakkan di seluruh kabupaten
Muna melalui program penghijauan.
Penanaman jambu mete ini mewujudkan impian pastor Migneau: meningkatkan
kesejahteraan para petani sehingga mereka mulai bisa menabung dan dapat
membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Sumber:
Buku 100 Tahun Karya Gereja Katolik di Sulawesi
Tenggara
Ketua Tim Penyusun: Frans Delu
Yang diterbitkan dan
dibagikan pada hari jadi ke-100 Ge

1 komentar:
Rest in peace Pastor Michel Migneau CICM. 19 Okt 2015. Kasih mu pada kami takkan terlupakan. Sing with the angels in heaven as you taught us in the moment you stay with us.
Posting Komentar